Makanya Jangan Asyik Sendiri!
Siang itu langit sangat cerah seakan mengajak angin untuk menghembuskan
anginnya yang sepoi sepoi. Cuaca yang bersahabat itu membuat semangatku tak
terbendung untuk mengerjakan tugas kampus. Kutenteng tas berisi laptop beserta
charger dan mousenya. Tak lupa mini sound untuk mencetarkan siang itu aku
keluarkan. Untuk memberikan asupan lidah dan perut, aku sudah menyiapkan snack
dan coffe latte kesukaanku. Eitz.. masih belum lengkap rasanya kalau buku dan
pulpen yang terkait dengan tugas tak di usung bersama perlengkapan yang lain. Semua
keperluan aku gelar di ruang tamu. Mp3 ku putar dan kusambungkan ke mini sound
sehingga suaranya cukup membahana. Modem sudah ku sambungkan dengan laptop dan
mulailah jemari mengetik kata kata kunci untuk tugas. Sementara mata sudah melirik,
berkedip, dan melotot mencari mana mana artikel yang sesuai dengan yang
tertulis di perintah tugas. What a day lah pokoknya hari itu.
Beberapa jam sudah kunikmati bersama artikel artikel di google. Coffe latte
yang tadinya panas wajar saja sudah dingin dan isinya tinggal setengah tegukan.
Snack juga hampir melewati garisnya alias hampir amblas tinggal bungkusnya. Tetapi,
pikiran dan hatiku tetap teguh tercurah rah rah pada pencarian materi tugas
yang tak kunjung usai. Sementara mata tetap setiapada layar laptop dan mulut
komat kamit menirukan lagu yang ku putar.
Tanpa kusadari ada suara berbisik yang menghentikan fokus kerjaku. Setelah kulirik
sedikit mencari pemilik suara itu, ku dapati sekilas seorang ibu berdiri di
depan pintu rumahku. Tanpa memperhatikan dengan seksama dan tanpa berpikir
panjang, aku meminta si Ibu itu masuk ke rumah.
“Monggo pinarak Bu, Ibuk ada di dalam”. (Silakan masuk bu, Ibu ada di
dalam)
Spontan setelah menyuruh si ibu tadi masuk dan tanpa menengok dengan jelas
siapa gerangan si ibu tamu itu, aku
berteriak memanggil ibuku, “Buk, ada temanmu di luar.”
Tapi tak ada respon sedikitpun dari ibuku. Maka kuputuskan untuk memanggil
Ibuku lagi, “ Buk, di tunggu temanmu diluar.” Ku ulangi teriakanku memanggil ibu dan meminta
si ibu tamu duduk, tapi lagi lagi ibuku tak menjawab sepatahpun. Herannya lagi,
si ibu tamu itu tak kunjung masuk dan duduk di dalam rumah. Maksud hatiku ingin
beranjak mencari ibuku kedalam. Namun apa yang terjadi??
Swing swing swing, terdengar si ibu tamu yang masih saja berdiri di depan
pintu sayup sayup mengeluarkan suara yang membuatku terperangah.
“Mbak, kula ndak madosi ibukke jenengan, kula badhe nyuwun mbak, kula
tiyang nyuwun”. (Mbak saya tak mencari Ibu anda tetapi saya mau minta, saya
pengemis).
Jleb, gleg, segera ku toleh dan kuperhatikan betul - betul si ibu itu. Alamaaaakkkk!!!!!
Sambil terkekeh kekeh aku beranjak mengambil uang dan meminta maaf pada si ibu
itu.
“Maaf Bu telah menunggu lama, ini uangnya.” ^^
hmmm gara-gara terlalu fokus ya Mbak.....hahaha
ReplyDeletehahah.. bisa jadi mbak, mungkin juga kurang peka :)
ReplyDelete